DN Aidit dan Komunis China Mao Zedong Perna Komunikasi Sebelum Peristiwa G30S PKI 1965

12 September 2022, 06:00 WIB
Keberadaan etnis Cina di Indonesia sebelum meletusnya peristiwa G30S PKI tahun 1965 /Tangkap layar YouTube.com/INFO NUSA

 

PORTAL MINAHASA – Perjalanan Pimpinan PKI (Partai Komunis Indobesia), Achmad Aidit atau Dipa Nusantara Aidit ditjemput Tentara pada malam 30 September 1965.

DN Aidit diceritakan sebagai sebagai otak dibalik kudeta pada tanggal 30 September 1965 yang menyebabkan jatuhnya ribuan bahkan jutaan korban jiwa. Termasuk 6 jenderan dan 1 Perwira.

Aksi yang dikenal dengan G30S PKI tersebut bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan NKRI dan menggantinya menjadi negara komunis.

Baca Juga: Tahukah Kamu, Ternyata Begini Cara Hasilkan Uang dari Aplikasi TikTok Tanpa Minimal Followers

Tujuan dari PKI DN Aidit ini, ternyata sudah terlisankan kepada Tokoh Komunis Luar Negeri yang juga pendiri Republik Rakyat Cina, Mao Zedong.

Dialog antara Aidit dan Mao ini dimuat dalam buku berjudul 'Revolusi, Diplomasi, Diaspora: Indonesia, Tiongkok dan Etnik Tionghoa 1945-1947' karya Taomo Zhou.

Penulis buku Taomo Zhou merupakan asisten professor pada Jurusan Sejarah, Nanyang Technological University, Singapura, yang ahli dalam bidang Tiongkok modern dan sejarah Asia Tenggara.

Baca Juga: Bisa Kuras Habis Uangmu, Hati-hati Instal 17 Aplikasi Di Smartphone Kamu

Transkrip percakapan keduanya dimuat pada bab delapan dengan judul 'Tiogkok dan Gerakan 30 September' di halaman 362-363.

"Yang menarik dari buku ini adalah transkrip dari percakapan Mao Zedong dengan Aidit pada tanggal 5 Agustus," terang Prof Dewi Fortuna Anwar saat membedah buku setebal 526 halaman tersebut, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu, 26 September 2021.

Menurut catatan di buku, transkrip percakapan Aidit dan Mao ini bersumber dari arsip pusat Partai Komunis Tiongkok, tertanggal 5 Agustus 1965.

Baca Juga: Tahukah Kamu, Kata Zaidul AKbar Jaga Iman Pengaruhi Imun dan Kesehatan Tubuh

Dewi Fortuna mengatakan, dari percakapan tersebut menunjukkan bahwa Beijing tak terlibat langsung dengan G30S PKI.

"Tetapi, bukan berarti Beijing tidak mendukung upaya PKI suatu saat untuk merebut kekuasaan, baik melalui jalan partai atau jalan revolusioner," katanya.

Senada dengan Dewi, Guru Besar Sinologi (Chinese Studi) Universitas Indonesia, Prof A Dahana selaku penerjemah ahli buku ini juga mengatakan hal serupa tentang percakapan langsung Aidit dan Mao.

"Dari percakapan ini membuktikan bahwa Aidit mengatakan akan melakukan tindakan yang kemudian menjadi G30S PKI. Mao mendukung, tapi Mao tidak pernah tahu kapan Aidit akan melakukan itu. Itu menurut buku ini," terangnya.

Seperti diketahui, selama ini peran China dalam peristiwa G30S PKI sering dipertanyakan. Buku ini bisa mengungkap seberapa jauh keterlibatan China terhadap peristiwa berdarah itu.

Meski begitu, Dahana mengakui bahwa buku ini belum bisa membuka secara keseluruhan soal keterlibatan China.***

Editor: Yunita Datalamon

Sumber: Beragam Sumber

Tags

Terkini

Terpopuler